17 Misteri dan Fakta Gunung Lawu Jawa Timur, pendaki wajib tahu

Gunung Lawu yang berada di Jawa Timur, selain menyimpan keindahan alam dan tempat peninggalan bersejarah, gunung ini ternyata juga menyimpan misteri yang sampai dengan saat ini masih diyakini baik itu oleh pendaki maupun masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Lawu. Di Gunung yang diyakini sebagai tempat moksanya Prabu Bhrawijaya V ini, ada banyak berkembang cerita mistis. Salah satunya adalah legenda tentang adanya burung jalak gading yang seringkali membantu para pendaki yang tersesat, keluar dari jalur pendakian.

17 Misteri dan Fakta Gunung Lawu Jawa Timur, Pendaki wajib mengetahuinya


Selain menyimpan banyak cerita misteri, ada beberapa fakta menarik mengenai Gunung Lawu yang mungkin rekan-rekan Ruang Pendaki belum mengetahuinya. Di kesempatan kali ini kami akan menyampaikan beberapa misteri dan fakta mengenai Gunung Lawu. Mari kita baca bersama...

1. Terdapat pasar setan yang sering ditakuti oleh pendaki. Mungkin mitos tentang adanya sebuah pasar setan di gunung tidak hanya berlaku untuk Gunung Lawu saja. Beberapa gunung khususnya di tanah Jawa konon memiliki sebuah pasar setan. Sebagai contoh Gunung Merapi yang berada di Jawa Tengah. Adapun pasar setan yang berada di Gunung Lawu, pendaki biasa menemuinya jika melakukan pendakian melalui Candi Cetho. Beberapa pendaki mengaku, bahwa mereka mendengar suara kerumunan orang banyak layaknya sebuah pasar ketika mereka melewati atau mendirikan tenda di lokasi tertentu. Lokasi yang dimaksud adalah sebuah lahan di lereng Gunung Lawu yang penuh dengan rumput dan ilalang serta dimana angin yang berhembus cukup kencang. Konon, mereka diharuskan membuang sesuatu di lokasi tersebut layaknya sedang melakukan sebuah transaksi jual beli.



2. Misteri Jalak Gading Gunung Lawu yang seringkali membantu pendaki. Gunung Lawu terkenal dengan mitos adanya Jalak Gading yang sering membantu pendaki tersesat. Jalak Gading yang berada di Gunung Lawu konon adalah penjelmaan dari Kyai Jalak, salah satu pengikut setia Prabu Bhrawijaya V. Diceritakan, ketika Prabu Bhrawijaya V moksa, beliau meninggalkan dua pengikut setianya yang bernama Sunan Gunung Lawu dan Kyai Jalak itu sendiri. Sunan Gunung Lawu berubah menjadi makluk gaib penunggu Gunung Lawu dan Kyai Jalak menjelma menjadi burung jalak yang sampai sekarang masih bisa pendaki temui. Burung Jalak ini konon seringkali menjadi pemandu bagi pendaki yang tersesat serta membantu Tim SAR menemukan korban apabila terjadi insiden di Gunung Lawu. Kisah mengenai burung Jalak Gading tidak hanya sampai disitu saja. Apabila seorang datang ke Gunung Lawu dengan niatan yang baik, maka jalak gading ini tidak akan segan membantu, berbeda ketika seorang datang dengan niatan yang buruk, maka Kyai Jalak tidak akan memberikan izin kepadanya sehingga mereka akan menemui kejadian buruk di sepanjang perjalanan.

3. Mitos Hargo Dalem yang menjadi tempat moksanya Prabu Bhrawijaya V. Pada masa meredupnya Kerajaan Majapahit yakni di tahun 1400 M. Raja terakhir yakni Prabu Bhrawijaya V sadar bahwa kejayaan kerajaannya akan segera memudar. Kejayaannya beralih ke kerajaan baru yang didirikan oleh anaknya sendiri yakni Raden Fatah pendiri kerajaan Islam Demak. Melihat kondisi yang demikian Sang Prabu yang beragama Budha dengan hanya disertai pemomongnya, Sabdopalon meninggalkan keraton dan mencari tempat yang sepi dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem. Konon di Hargo Dalem, Sang Prabu diangkat moksa meninggalkan kedua abdinya yang setia dan memberi mandat kepada mereka untuk menjadi penguasa gaib serta menjaga beberapa gunung di tanah Jawa, termasuk Gunung Lawu itu sendiri.

4. Mitos pantangangan memakai pakaian berwarna hijau ketika mendaki Gunung Lawu. Di kalangan pendaki, beberapa mungkin sudah mengetahui tentang mitos ini. Pantangan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau dikarenakan adanya kepercayaaan bahwasanya Sang Prabu mengenakan baju berwarna hijau ketika moksa di Hargo Dalem.

5. Misteri mengenai sumur Jalatundo yang diyakini memiliki jalur sampai ke Pantai Selatan. Sumur Jolotundo merupakan salah satu peninggalan sejarah di Gunung Lawu yang sampai sekarang masih bisa kita temui apabila kita melakukan pendakian melalui jalur Cemoro Sewu. Sumur yang memiliki bentuk menyerupai goa dan memiliki jalur masuk berbentuk spiral tersebut sampai sekarang masih dikeramatkan oleh masyarakat sekitar serta seringkali digunakan untuk acara ritual. Untuk masuk ke sumur ini kita harus menggunakan tali karena sumur ini curam serta memiliki kedalaman 5 meter. Beberapa masyarakat percaya bahwa sumur ini memiliki jalur menuju ke Pantai Selatan karena beberapa orang pernah mendengar adanya suara deburan suara ombak dari dalam sumur Jolotundo.

6. Misteri tentang Sendang Drajad yang konon tidak pernah kering. Meskipun berada di dekat puncak gunung dan diambil secara terus menerus, sendang atau mata air ini tidak pernah kering meskipun musim kemarau tiba. Air sendang ini dipercaya dapat memberikan mujijat bagi orang yang meminumnya. Pejiarah disarankan untuk menyiram badannya dengan air sendang ini dalam hitungan ganjil apabila tidak bernasib sial.

7. Mitos mengenai Telaga Kuning di Gunung Lawu. Gunung Lawu memiliki sebuah telaga yang bisa kita temui ketika musim penghujan karena apabila musim kemarau, air di telaga tersebut akan surut meninggalkan padang rumput yang cukup luas. Nama telaga yang dimaksudkan adalah "Telaga Kuning" Untuk bisa mencapai telaga ini apabila kita dari Hargo Dumilah, kita harus berjalan menuju ke sebuah tebing yang berada di sebelah barat. Rumput yang tumbuh di dasar telaga ini berwarna kuning sehingga airnya kelihatan kuning. Telaga ini diapit oleh puncak Hargo dumilah dengan puncak lainnya. Luas dasar telaga Kuning ini sekitar 4 Ha. Ada cerita menarik mengenai Telaga kuning ini. Konon pendaki yang mandi berendam di tempat ini, segala keinginannya dapat terkabul. Namun sebaiknya jangan coba-coba untuk mandi di puncak gunung karena airnya sangat dipasttikan akan sangat dingin.

Gunung Lawu selain menyimpan cerita misteri yang sampai sekarang belum terpecahkan, gunung ini menyimpan fakta unik yang menarik untuk kita simak. Apa saja fakta menarik dari Gunung Lawu, berikut penjelasannya :

1. Merupakan Gunung yang masih aktif. Gunung Lawu termasuk dalam gunung api istirahat yang bisa sewaktu waktu menunjukkan aktifitas vulkanik dan meletus. Gunung ini tercatat terakhir meletus pada tahun 1.885 silam. Adapun sampai dengan saat ini, kita bisa merasakan aktifitas vulkanik dari perut bumi Gunung Lawu dengan adanya gas belerang yang bisa kita cium dari pos II bagian atas pendakian via Cemoro Kandang. 

2. Gunung Lawu masuk dalam Seven Summit of Java. Bila di tingkat dunia, kita mengenal seven summit atau tujuh gunung tertinggi di dunia, dimana Gunung Cartenz Papua masuk ke dalamya. Maka Gunung Lawupun masuk ke dalam " Seven Summit of Java" dimana Gunung Lawu masuk ke dalam tujuh gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung Lawu yang memiliki ketinggian 3.265 Mdpl berada di urutan ketujuh setelah Gunung Semeru yang berada di Jawa Timur, Gunung Slamet, Gunung Sumbing, Gunung Arjuno dan Gunung Raung.

3. Memiliki 3 puncak yakni Hargo Dumilah, Hargo Dalem dan Hargo Dumiling. Sampai dengan saat ini masih sedikit yang mengetahui, bahwa Gunung Lawu memiliki tiga puncak. Memang puncak Hargo Dumiling tidak sepopuler dua puncak lainnya. Puncak ini lebih rendah dibanding keduanya dan dipercaya sebagai tempat moksanya Sabdopalon. Hargo Dumilah menjadi puncak tertingg dari Gunung Lawu. Di Hargo Dumilah terdapat sebuah tugu penanda. Pendaki harus memerlukan tenaga ekstra untuk bisa mencapai puncak ini karena trekya curam dan memutar.

2. Terdapat warung makan tertinggi di Indonesia. Di Gunung Lawu terdapat warung makan Mbok Yem yang digadang-gadang merupakan warung makan tertinggi di Indonesia. Berada di ketinggian lebih dari 3.000 Mdpl, warung ini tentu tidak asing lagi bagi para pendaki yang acapkali mendaki Gunung Lawu. Mbok Yem, panggilan akrab pemilik warung ini, sudah lebih dari 20 tahun mendiami warung sederhana miliknya yang letaknya tidak jauh dari Sumur Jolotundo. Warung makan ini bisa menampung banyak pendaki serta memiliki menu andalan yakni nasi pecel yang menjadi ciri khas daerah Gunung Lawu. Meskipun sederhana, di warung miliknya juga terdapat fasilitas listrik yang diporoleh dari mesin genset. Menarik bukan ??!!

3. Memiliki 2 jalur pendakian. Terdapat dua gerbang pendakian Gunung Lawu, yang pertama adalah jalur pendakian Gunung Lawu via Cemoro Kandang serta jalur pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu. Keduanya adalah jalur pendakian resmi yang hanya terpaut 200 m. Jalur pendakian yang paling banyak dilalui oleh pendaki adalah jalur Cemoro Sewu. Alasannya tentu karena lebih cepat untuk sampai ke puncak dibandingkan bila pendaki melalui Cemoro Kandang yang cenderung lama serta harus memutar. Namun untuk view, jalur pendakian via Cemoro Kandang menawarkan pemandangan yang lebih bagus.

4. Terdapat sumber mata air di jalur pendakiannya. Ada tidaknya sumber mata air di jalur pendakian merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan ketika hendak melakukan pendakian gunung. Dengan adanya sumber mata air maka pendaki bisa kembali mengisi persediaan air untuk bekal selama perjalanan. Bagi kamu yang ingin mendaki Gunung Lawu, terdapat dua mata air di jalur pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu. Sumber mata air tersebut bernama Sendang (kolam) Panguripan yang terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 serta Sendang Drajat yang terletak di antara Pos 4 dan Pos 5.

5. Pendakian melalui Cemoro Sewu, kita bisa melihat Telaga Sarangan. Satu lagi keindahan yang bisa kita dapatkan ketika mendaki Gunung Lawu. Kita bisa melihat Danau Sarangan dari atas ketinggian. Danau atau lebih tepatnya Telaga Sarangagan yang berada di Kabupaten Magetan Jawa Timur, dapat terlihat ketika kita berada di pos 4.  Tidak hanya itu saja, di pos ini kita bisa melihat punggung Gunung Lawu dari arah sisi timur. Punggungan tersebut nampak seperti benteng alam yang tinggi menjulang.

6. Di Gunung Lawu terdapat beberapa peninggalan sejarah. Gunung Lawu seringkali dikaitkan dengan keberadaan kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Ada beberapa peninggalan sejarah di daerah Gunung Lawu. Adapun peninggalan sejarah di Gunung Lawu diantaranya : Candi Sukuh dan Candi Cetho serta Sumur Jolotundo. Selain itu juga terdapat sebuah petilasan yang dipercaya sebagai tempat moksanya Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit yang sampai dengan saat ini masih bisa kita temukan yakni di Puncak Hargo Dalem.

7. Pernah mengalami kebakaran hutan. Sama seperti nasib beberapa gunung lainnya di Indonesia. Gunung Lawu juga pernah mengalami kebakaran hutan yang mengakibatkan kerusakan hebat terutama di sisi atau lereng sebelah barat. Kebakaran yang terjadi tepat pada tanggal 18 Oktober 2015 ini disinyalir berasal dari perapian pendaki yang lupa dipadamkan atau tidak dipadamkan sepenuhnya. Akibatnya terdapat beberapa pendaki harus kehilangan nyawanya dan beberapa diantaranya harus menjalani perawatan karena mengalami luka bakar.


8. Memiliki suhu yang sangat dingin. Gunung Lawu memiliki suhu yang sangat dingin bila dibandingkan dengan gunung lainnya seperti Gunung Merapi atau Gunung Merbabu. Penulis sendiri pernah merasakan suhu yang sangat dingin ketika berada di pos 4 saat perjalanan menuju ke puncak. Yang jelas jangan lupa untuk membawa sarung tangan, kaus kaki dan syal untuk menutup bagian-bagian tubuhmu yang peka terhadap udara dingin ketika mendaki Gunung Lawu.

9. Memiliki jalur melalui Candi Cetho. Jalur pendakian melalui Candi Cetho memang tidak banyak dilalui seperti halnya jalur pendakian via Cemoro Kandang maupun via Cemoro Sewu. Namun konon, jalur melalui Candi Cetholah jalur pertama yang dulunya dilalui untuk sampai ke puncak Gunung Lawu. Candi Cetho yang berada di Ngargoyoso, Karanganyar diyakini sebagai pintu gerbang masuk ke Gunung Lawu. Menurut tradisi orang jaman dahulu jika naik Gunung Lawu harus lewat sisi utara sedangkan apabila mau turun harus melalui sisi Selatan.

10. Untuk bisa sampai puncak, kini bisa menggunakan motor trail. Sejak beberapa tahun silam, telah dibuka jalur khusus yang bisa dilewati motor trail sampai ke Puncak Hargo Dumilah. Jalur yang dimaksud adalah jalur dari Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ngargoyoso, Karanganyar. Dengan dibukanya jalur motor trail, tentu menimbulkan pro kontra terutama di kalangan pecinta alam. Banyak yang menyayangkan tindakan yang dilakukan perhutani tersebut, pasalnya dengan dibukanya jalur motor trail akan menimbulkan kerusakan lingkungan. Namun disisi lain hal ini sangat menguntungkan bagi seorang yang ingin menikmati keindahan dan atmosfer Gunung Lawu serta tidak kuat untuk mendaki.

Itulah beberapa Misteri dan Fakta dari Gunung Lawu, salah satu gunung yang menjadi gunung Favorit pendaki khususnya pendaki dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dengan adanya cerita misteri yang berkembang, semoga menjadikan kita untuk lebih mawas diri dengan menjaga perilaku, menjaga kesopanan kita ketika mengunjungi suatu tempat. Dengan demikian, bisa tercipta hubungan harmonis antara manusia, alam serta alam cosmic di sekitar kita. 

0 Response to "17 Misteri dan Fakta Gunung Lawu Jawa Timur, pendaki wajib tahu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel